Jumat, 06 Juli 2012

Melihat Pupuk Bio Organik dari Mata Kesehatan


pak-wayan1
Sesungguhnya Tuhan menciptakan umat-Nya begitu lengkap dan sempurna antara ciptaan satu dan lainnya saling terkait dan terikat, saling membutuhkan dan dibutuhkan, yang dalam bahasa ilmiah disebut rantai kehidupan. Dalam ilmu pertanian pun mengajarkan hakikat pertanian yang baik dan benar adalah pertanian yang memberikan propaganda hasil berkelanjutan melalui jalan keseimbangan antara sifat fisika, kimia, dan biologi, artinya jika tiga komponen ini hanya diprioritaskan salah satu dan meninggalkan komponen yang lain maka sesungguhnya petani tersebut bukanlah petani yang bijak rasional yang tentunya akan memberikan multiplayer effect negatif berkepanjangan tanpa batas bila tidak segera diatasi secepatnya.
Di masa Orde Baru dengan adanya gerakan produktivitas pertanian atau biasa disebut Revolusi Hijau yaitu memacu percepatan indeks produktivitas persatuan luas melalui jalan pintas yaitu selalu mengedepankan komponen unsur makro yang dibuat dengan cara sintetis, NPK misalnya. Tapi sungguh patut disayangkan ketika itu tidak ditegakkan prinsip pertanian yang berkelanjutan dengan pola pemberian pupuk yang seimbang antara yang organik dan yang anorganik. Gerakan tersebut begitu pesatnya dan produktivitaspun meningkat tajam bahkan larut terlena sampai puluhan tahun lamanya. Tapi sayangnya dibalik konsepsi ini seolah tidak diprediksikan bahwa justru memberikan kontribusi yang bersifat negatif yang kita nikmati sekarang ini.
Manifestasi dari dampak tersebut diantaranya sifat fisik tanah mengeras yang berdampak pada mudah kering ketika panas dan mudah banjir ketika hujan. Kadar 16 unsur hara yang dibutuhkan tanaman dan terkandung dalam tanah menurun drastis, yang berdampak pada peningkatan yang tajam kebutuhan pupuk dari waktu ke waktu dalam luasan yang sama walaupun apresiasi produksi nyaris stagnan bahkan sebagian nyaris menurun. Menurunnya populasi multi mikroba yang berfungsi menambat nitrogen, melarutkan phospat dan kalium berdampak nyata pada peningkatan kebutuhan pemakaian pupuk NPK dalam luasan yang sama. Menurunnya strain dan koloni multimikroba yang memberikan multifungsi bagi pertanian diantaranya sebagai bio kontrol sekaligus bio pestisida, yang berakibat meledaknya multi penyakit yang sudah tidak bisa lagi dikendalikan oleh pestisida kimia karena resistensi. Kondisi ini membutuhkan energi besar untuk menuntaskannya. Menurun drastisnya strain dan koloni multimikroba yang salah satu di antaranya berfungsi mereduksi kadar logam berat, tapi sisi lain pemakaian sarana pertanian dengan kimia sintetis masih berlebihan dan terus menerus, kondisi ini berdampak pada begitu tingginya kadar bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Mungkin sebagian sudah di ambang batas, salah satu indikatornya adalah ketika diekspor ke negara maju yang sudah sadar betapa pentingnya arti kesehatan bagi warganya, ditolak karena tidak layak untuk kesehatan menurut kacamata mereka.
Begitu juga diakui atau tidak bahwa nyaris puluhan tahun seluruh petani di negeri ini tidak pernah memakai multihormon organik/ zat pengatur tumbuh, kondisi ini memberikan dampak imbas terhadap proses pengkerdilan berbagai macam tanaman sehingga wajar saja jika diberbagai daerah tidak bisa memberikan hasil maksimal. Padahal multihormon tersebut sunggulah dibutuhkan oleh tanaman untuk proses tumbuh kembang, di antaranya Auksin untuk merangsang keluarnya akar sebanyak mungkin dan secepat mungkin, Sitokinin dan Giberelin untuk pembelahan sel dan penjarangan antar sel supaya jaringan besar sehingga ukuran hasil pertanianpun besar, Asam Absisat memberikan peran menjaga ketahanan terhadap kekeringan sehingga ketika tanaman contohnya singkong jika di musim kemarau tetap melakukan proses kerja pembesaran umbi, Etilena merangsang keluarnya bunga dan buah serempak sangat dibutuhkan pada tanaman padi contohnya, dan Asam Traumalin merangsang percepatan penyembuhan luka akibat serangan serangga, pemangkasan maupun pemetikan seperti pada cabe dan the. Jika hormon-hormon organik tersebut dimanfaatkan oleh petani akan memberikan dampak nyata yaitu mendongkrak panen yang pada akhirnya juga laba bersih yang didapat petani akan meningkat tajam terlebih motivasi para petani itu sendiri.
Menurut manajemen penatalaksanaan kedokteran meliputi anamnesa, pemeriksaan, diagnosa, terapi, dan prognosa, jika manajemen ini diterapkan dalam pertanian saat ini, secara anamnesa (keluhan petani) meliputi rentannya tanaman terhadap hama penyakit dan menipisnya laba yang didapat. Pemeriksaan, secara laboratorium kadar C-Organik sebagai nyawanya tanah, indikator kesuburan tanah, dan media biak multimikroba mengalami penurunan drastis, yang pada tahun 1970-an secara nasional diatas 2.5 % tapi sekarang mendekati 1%, padahal idealnya di atas 3%. Diagnosa menyimpulkan bahwa tanah mengalami sakit , terapinya yaitu suplai pupuk bio organik pada kesempatan pertama dan sebanyak-banyaknya yang memiliki kadar C-Organik setinggi mungkin dan multimikroba yang bersimbiotik dengan pertanian tanpa memiliki sifat patogenitas sebanyak mungkin. Prognosa, jika tidak diberi terapi tersebut maka menghadapi resiko yang sifatnya massal terhadap rendahnya produktivitas nasional yang pada akhirnya menjadikan kondisi psikologis petani yang bersifat dismotivasi tapi jika segera dilakukan terapi tersebut maka produktivitas meningkat berkelanjutan, petaninya sehat, hasil pertaniannyapun dikonsumsi juga sehat yang pada akhirnya keuntungan petani meningkat, inilah sumber kekuatan bagi petani.
Sungguhlah patut semua pihak tanpa kecuali untuk melakukan gerakan yang bersifat massal, revolusi pertanian yang berbasiskan bio organik/hayati organik. Ini semua semata-mata untuk kelangsungan kehidupan yang lebih manusiawi yang berangkat dari kesehatan tanah itu sendiri, para petani sebagai pelakunya, hasil pertanian yang diproduksi, dan sesama yang mengkonsumsinya.
Tidaklah berlebihan dan terlalu sulit pekerjaan rumah yang berat ini jika dilakukan oleh semua insan yang merasa bagian dari integritas negara besar Republik Indonesia ini yang mempunyai karakter pertanian. Untuk itu penulis merasa terpanggil untuk menyuarakan, mengajak semua segmen lapisan masyarakat untuk bersama-sama memahami, menyadari untuk melangkahkan kaki seawal mungkin untuk ikut andil membuat proses perubahan bermakna dari pertanian yang serba kimia sintetis kembali ke pertanian yang berbasis pertanian bio organik, atau setidaknya pertanian yang seimbang antara yang organik dan yang anorganik.
Jika kita mau jujur, sejenak menahan nafas berdiskusi dengan sang hatinya sendiri, relakah jika anak cucu kita terus menerus bagai tanpa peduli untuk diberi asupan yang katanya penuh gizi tapi di balik itu masih mengandung kadar bahan kimia yang sudah tidak lagi sedikit kadarnya? Sebagian dari banyak orang pasti tau betapa besar akibat bahan kimia sebagai residu dari hasil pertanian tersebut bagi kesehatan anak-anak yang sedang tumbuh kembang baik anatomi fisiologi otak maupun psikologi edukasi dini terhadap apa yang sebenarnya dikonsumsi. Padahal kita sudah tau tapi kadang pura-pura tidak tau bahkan sebagian dari kita tidak mau tau terhadap multiplayer effect negatifnya bahan kimia sintetis untuk pangan yang dikonsumsi anak cucu kita, sekalipun dalam botol kemasan tertulis larangan untuk didekati anak kecil (jauhkan dari anak kecil).
Pengalaman yang paling sulit kita lupakan adalah ketika sedang sakit terlebih sedang berbaring di rumah sakit. Pasti kondisi seperti ini tidak bisa dituntut untuk bekerja sebagaimana saat sedang sehat, begitu jugalah kondisi lahan pertanian yang kita miliki dan yang kita cintai saat ini adanya, tidak mungkin memberi hasil maksimal sebelum disehatkan dulu. Kita pun akan merasakan betapa bermanfaatnya kesehatan itu justru saat kita sedang sakit, ibarat gelas terasa begitu bermanfaat ketika retak apalagi ketika sudah pecah, rasanya penulis dengan segala kerendahan hati namun sekuat hati menyampaikan pesan ”Kesehatan memang bukan berarti segalanya, tapi segalanya tiada berarti tanpa kesehatan ” melalui cara yang sangat sederhana yaitu ”Kasihi yang dibumi, pasti yang di langit mengasihimu” dan berujung Miliki yang dicintai dan cintai yang dimiliki, karena pertanian ini milik kita. Satu langkah nyata jauh lebih indah daripada ribuan langkah dalam mimpi belaka. Kadang kita mengabaikan sebutir benih kebajikan kadang pula terasa lelah menebar merata padahal jika sudah besar sungguhlah menyejukkan bahkan bisa menebar kembali ke sekitarnya. Untuk segenap sahabatku para petani, do’aku mengalir di nadimu dalam kiprah karya nan indah kembangkan pertanian hayati organik.”
Penulis :
Wayan Supadno (0811763161)
Formulator Pupuk Hayati dan Organik
Kabid. Penelitian Pengkajian dan Pengembangan Pertanian Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar